Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, August 31, 2016

Hari.

"Kamu pilih yang mana? Pagi, siang, sore atau malam?"
"Hmm, aku? Aku suka senja. Kamu, Vi?"
"Kalau aku, hmm. Rahasia :p " *tersenyum lalu pergi*

Entahlah, mungkin karena menurutku 'mereka' bukan pilihan. Aku menyukai semuanya. 

Pagi, saat udara masih sejuk. Saat matahari terbit. Atau ketika aku mengingat saat pergi ke sekolah bersama ayah, ibuk dan mas meda. Melewati jalan aspal ditengah sawah. Lalu ada semilir angin, wangi dari kebun melati dan sinar matahari hangat yang membuat alasan kenapa pagi selalu indah.
Atau pagi ketika mesin bus sekolah sudah menyala, rerumunan teman berseragam rapi, berbaris lalu apel pagi. Suara bapak ibu satpam di mikrofon, lalu pemandangan gunung di depan asrama.
Atau lagi, bangun pagi dengan mata masih berat. Ampas kopi sisa semalam. Tumpukan kertas tugas dan revisian. Kipas angin yang masih memutar, suara orang berbelanja sambil rumpi, suara orang yang mulai mencari nafkah. Membuka toko, menjual sayur. 

Atau tentang siang. 
Saat kebersamaan terus dirangkai. Terus dirangkai. Dirangkai menjadi memori.
Atau saat peluh mulai menetes.
Ya, berjuang. Mengejar yang harus dikejar. Mencari yang harus didapatkan. Berusaha. Bangkit. Mencoba lagi. Walau letih, tapi waktu memang tak pernah mau menunggu.
Siang, saat orang mulai mengenal. Bercanda, berlari, tertawa.
Siang, saat keputusan diambil. Ada yang tetap, ada yang pergi.
Berpisah, mengenang, sendu, tangis, kecewa.
Siang, saat berebut kekuasaan. Darah. Atau saat penyelamatan. Dari yang harus pergi, dari yang harus menyingkir.

Atau mungkin sore.
Saat dunia mulai sejuk kembali. Ketika semua kembali. Menghapus peluh, meminum seteguk air. Mulai tersenyum dan kembali kerumah. 
Atau mungkin sore, saat matahari mulai kembali, dan langit menjadi jingga. Jingga memang selalu menarik. Nyaman. Merebahkan. Melupakan.

Atau tentang malam.
Saat dunia mulai damai. Tenang. Sunyi. Diam. 
Saat segala lelah dilepaskan, saat harapan dilayangkan.
Saat langit gelap penuh bintang.
Saat mata terpejam. Hilang.

Sepenggal Kisah

                                                                                                          Oleh : Violentaria

Aku kemari bukan karena kamu disini
Melangkah menuju ruangan tanpa tepi
Berdiam diri
Berteman sepi
Menanti
Meratapi

Aku datang bukan karena kamu undang
Hanya saja ada keping yang tertinggal
Sepenggal
Terbang
Menghilang

Aku disini hanya mengingat kembali
Menghidupkan memori
Tentang senyum dan hangat tatapmu
Atau aku yang kamu buat tersipu malu
Tentang candaan, tentang kamu

Aku sudah melepasmu, sungguh
Aku sudah membiarkanmu pergi, tentu
Tapi aku hanya tidak akan menghapus kisahmu
Lagi

Sunday, July 10, 2016

Untuk Tuan

Oleh : Violentaria Gita Salina

Kibaran itu kini mulai layu
Anginpun mengalir sambil terus mendesah malu
Inikah baktimu pada orang terdahulu?

Tuan bilang, yang dulu pasti sedang pilu
Melihat anak cucu tumbuh tak menentu
Belum korupsi, belum masalah harga diri
Belum kejahatan usia dini, belum masalah uang lagi

Tuan bilang, anak cucu cuma sekedar ahli mimpi
Tuan bilang, anak cucu cuma sampah tanpa arti

Lalu, apa tetap mau seperti ini?

Anginpun mengalir sambil terus mendesah malu
Seiring hati berbisik dengan bibir yang pecah kaku
“Wahai tuan, kami disini tidak diam
Hanya saja ada saja yang membungkam”

Kami juga bersatu dan berintegrasi
Berfikir sana-sini untuk mencari solusi
Tapi mengapa selalu ada yang menghakimi?
Ide belum jalan sudah dihina setengah mati
Katanya evaluasi, tapi penuh kritisasi
Katanya untuk perbaikan nanti
Tapi  menyingkirkan gerombolan kami
Apakah tuan ingin me’raja’kan diri?

Sudah, kami bukan generasi mati!
Tunggulan kami pada “suatu hari nanti”

Meski navigasi sudah tak lagi murni
Kami tetap menyeret kaki membangunkan ibu pertiwi
Dan tuan akan menyesali diri tanpa henti
Terkubur dalam kepalsuan yang abadi


Nb : mohon mencantumkan pembuat puisi dan meninggalkan komentar sebelum menggunakan puisi ini :)

Malam.

Oleh : Violentaria

Hai.
Apa kabar?
Semoga kamu tetap terus menampilkan senyummu seperti dulu.
Iya, senyum itu.
Sungguh membuatku rindu.

Hai.
Aku masih disini.
Masih ditempat yang beda denganmu.
Entah kenapa sepertinya jarak membenciku.
Seiring berjalannya waktu.
Jarak membuatmu memudar.
Menipis.
Menghilang.

Hai.
Jika malam memang penuh pengharapan.
Aku sungguh ingin kau datang.
Jika bulan memang penuh keajaiban.
Aku sungguh ingin kita melayang.
Jika bintang memang bukan khayalan.
Mari bersama mengarungi lautan impian.
Seperti janji yang lalu.
Seperti kenangan yang terdahulu.

Hai.
Sungguh aku merindumu.

Nb : mohon mencantumkan pembuat puisi dan meninggalkan komentar sebelum menggunakan puisi ini J


Tuesday, May 3, 2016

Rasa Kembali

Dalam bangunan seputih salju, kulangkahkan kaki ini
Tidak pasti, hanya saja mencoba meyakinkan diri

Pada keraguan yang mendalam, kupejamkan mata
Gelap, semakin gelap
gelap, semakin pekat

..dan terkejut..

Tanpa terasa, engkau hadir dihadapanku
Menyapa dengan sudut senyum unik dipipimu
Cerah, hangat, penuh cahaya
Kamu menyambutku dengan terbuka
Dan ajaibnya semua ragu perlahan sirna

Detik berlalu, waktu membeku
Saling tatap menjadi satu
Aku, kamu
Kembali ke masa lalu

Andai kamu tahu, rasa itu perlahan datang kembali
Rasa yang lama terpendam dan terkikis oleh waktu
Namun apa dikata, pertemuan itu merubah segalanya

Seperti lahir kembali, rasa itu muncul lagi

Hei, kapan kamu mulai menyadari?

Saturday, November 22, 2014

Kepada Hujan

Kepada hujan,
Yang datang tuk mengingatkan pada semua hal.
Bahwa yang hidup akan berakhir dengan ketiadaan.
Bahwa disini kita menanti tanpa sebuah kepastian.
Bahwa waktu yang terus berputar, perlahan akan memudar dan melayang.

Dan rintik air yang terus mengalir
Perlahan memunculkan kenangan tentang nyawa dan arti

Dan waktu berjalan, beralun dalam nada.
Menanti kisah baru dalam naungan bulan desember.
Saat kau datang dan perlahan menghilang.
Saat harapan yang diperjuangkan mati-matian entah kemana kini arahnya.

Dan hujan,
Datanglah, terus datanglah,
Hingga perlahan aku tenggelam dalam diam.
Tenggelam dalam masa dan waktu yang telah lalu.
Tenggelam, terus tenggelam, begitu dalam.

Namun kan muncul kembali.
Entah sebagai apa.

Saturday, February 9, 2013

Puisi : Munafik
















Galaksi hitam mulai terhampar
Bumiku semakin kelam
Bulan pucat pasi kehilangan matahari
Senja buta mulai memekat
Langit terdiam dan mulai menangis
Menangis dan semakin menangis
Menghantam kerasnya lampu-lampu jalan
Memunculkan sejuta bias dalam gelap
Aku tetap tak mengerti dan aku tak mau peduli

Kini hanya bisa terdiam
Menanti sebuah jawaban,
Yang mungkin takkan mungkin terbalas
Menanyakan janji yang lama terpendam
Entah hilang tertelan atmosfer bualan
Saga mata yang hilang
Sebagai ganti kasih sayang yang lama pudar

Lelahku mendesah resah
Ku biarkan helai rambutku terbang sepoi-sepoi
Perlahan
Seperti perlahannya memoriku mengingatmu
Saat kau permainkanku
Saat aku tak lagi bisa menahan ombak amarahmu

Kau yang cantik
Kau yang manis
Kau yang egois! Kau Iblis!
Berparas malaikat, berhati setan neraka
Datang dan pergi sesukamu
Seperti jailangkung
Riang menari di atas tangisan darahku
Tertawa puas; lepas di atas gunung penderitaanku
Tanpa peduli,
Kau tetap munculkan senyum manis busukmu itu!

Asal kau tahu,
Suatu saat nanti
Ku akan tancapkan pedang emosiku tepat di relung jantungmu
Hanya agar kau tahu dan mengerti
Bahwa aku bukan mainanmu lagi
Hanya agar kau tahu dan mengerti
Bahwa kau bukan ratu negeri
Hanya agar kau tahu dan mengerti
Bahwa dunia yang sempit ini,
Bukan hanya untuk dirimu semata!

Friday, November 16, 2012

Poetry : Another Side of Me












Now me,
I'm innocent
Like a child who know nothing
But still keep walking
In the dark of the world
To against your word

Now me,
I'm innocent
I walk while they saw me
They laugh at me
But I keep walking
And its become darker

Now me,
I'm innocent
I'm alone
Nothing here
So I run
Although I don't know
Where will I go

Now me,
I'm innocent
I'm scared
Its crazy to be here
I lost my brain
I lost my heart
I think I can't
Its so dark
I'm blind

Now me,
I'm innocent
And I'm tired
Totally tired
I'm tired for passing this part
I'm tired for survive
I'm tired for being 'not' me

Now me,
I know I was Innocent
Now I arose
I learn to be careless
For the one like you
The one that want to destroy me
The one who going to kill me
Yes, the one. . .
The another side of me.

Saturday, November 3, 2012

Puisi : Perjuangan Seorang Ayah

Di ujung usiamu yang tak lagi muda
Kau tetap membuatku tertawa
Menyisipkan canda dalam duka
Membuatku lupa akan lara yang ada

Engkau tak segan berjuang untukku
Berkeringat tiap terik
Kedinginan tiap malam
Hanya untuk biaya
Agar aku tetap menghirup udara
Dalam kejamnya dunia

Ayah, aku juga manusia
Yang terkadang khilaf dalam kata
Selalu salah dalam bicara
Aku tahu
Lidahku pernah menyayat hatimu yang lembut, suci
Mengoyak perasaanmu
Hingga ku tak sadar kau meneteskan air mata
Diantara keringat-keringat dari keningmu
Maafkan aku, Ayah

Aku tahu kau Ayah yang kuat, Ayah yang hebat
Yang menyembunyikan tangis di balik senyummu
Hanya agar aku tak turut memikirkan beban yang kau tanggung
Tapi mata memang tak pernah bohong
Rasa tercambuk saat aku menatap matamu itu
Apa yang telah aku katakan?
Aku hanya menambah beban
Dari hari-harimu yang lama tenggelam

Terngiangku saat hamparan bintang menyelimuti bumi
Dingin malam menusuk tulang hati
Sunyi, sepi, gelap sekali
Kau menggelindingkan butir-butir tasbih
Bersama hati seputih salju

Di antara mega kegelapan yang membara
Kau duduk beralas tikar, penuh cahaya
Menadahkan tangan, berlutut dan berdoa

Ku lihat kau meneteskan rinai hujan di pipimu lagi
Pipi penuh guratan-guratan
Saksi hidupmu yang lama kau tempuh
Perjuanganmu menerjang kerasnya dunia

Kau lafadzkan ayat-ayat suci dengan lembut dan syahdu
Dan kau sebut namaku di antara senandungmu itu
Kau sebut namaku di sana!

Kau sebut namaku
Nama anakmu yang pernah melukaimu
Nama anakmu yang pernah menyakitimu
Nama anakmu yang tak berguna
Dan tak pernah membuatmu bahagia

Tapi kau masih sudi menyebut namaku ini
Kau sebut namaku di antara ayat-ayat suci
Yang kau baca dengan hati khusyuk
Penuh pengharapan

Dan kau masih meneteskan rinai hujan di pipimu itu

Pipi yang penuh guratan-guratan
Saksi hidupmu yang lama kau tempuh
Perjuanganmu dalam menerjang kerasnya dunia
Hanya untuk biaya
Agar aku bisa menghirup udara
Dalam kejamnya dunia

Violentaria Gita Salina

Friday, August 31, 2012

Puisi : Pahlawanku

Dengan segala kebulatan hati
Tanpa di perintah
Tanpa pamrih
Kau korbankan jiwa raga
Untuk mengusir penjajah
Yang ingin merampas negri ini
Dari pangkuan ibu pertiwi

Kini buah dari segala pengorbananmu

Kami bebas membangun negri ini
Demi kejayaan
Generasi yang akan datang

Trimakasih pahlawanku
Atas segala pengorbananmu
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa
Memberi balasan Sorga
Di alam sana

Oleh : Violentaria Gita Salina

Thursday, August 30, 2012

Puisi : Makna Terdalam Seorang Sahabat



“Sahabat”
Sebuah kata sederhana
Tapi harta yang takkan terlupa

 “Sahabat”
Sebuah kata yang lama tercipta
Tapi memiliki makna yang tiada tara

“Sahabat”
Sebuah kata hampa
Namun penuh dengan cerita

Tapi apa daya
Beribu bualan tentang sahabat
Tetap tak dapat mengembalikan kau
Mengembalikan kau kepadaku

Kini kau menghilang tak tentu arah

Ku hanya terdiam sendiri
Bernaung pada sebatang pohon jati
di puncak bukit ini
saat gerimis mencium bumi pertiwi

hanya bisa mengenang kisah kita
kisah yang sangat pahit untuk diingat
namun terlalu manis tuk dilupakan

bintang-bintang malam tetap bertaburan
memolekkan cahaya seperti biasa
namun ku tak lagi enggan menatap mereka
karena ku mulai tahu dan mengerti
hanya mereka yang mengisi kesendirian ini
semenjak kau pergi
semenjak kau tak disini

semilir angin kesunyian
merangkai sebuah lantunan nada indah
di atas kesaksian pucatnya sang rembulan
di atas ranting-ranting yang tak dapat bertahan

dan ku bisikkan senandung itu
hingga menarilah setetes air dari mataku
ku sisipkan doa agar kau kembali
tuk mengisi ruang hampa dalam hatiku

kunyanyikan kidung mendayu itu
air mata semakin deras mengalir di pipiku
ku masih barharap kau kan kembali
tuk mengisi kekosongan dalam mimpiku

putus sudah harapan yang telah ku rangkai
ku tak sanggup tuk hidup dalam gelumit guratan-guratan takdir
yang menghapus pertemuan
tuk menemui gerbang perpisahan
369 hari ku menanti dirimu
matahari berganti rembulan
mega cahaya berganti selaksa kegelapan

Ku tetap menanti dirimu tuk kembali disisiku

Tuhan..
Tolong beri aku kesempatan
Tuk bisa memutar waktu
Agar aku bisa bertemu dengan dirinya
Merangkai kisah-kisah kecil yang sangat berarti
Mengukir kenangan-kenangan indah penuh tawa
Mengalunkan senyuman manis penuh canda

Tuhan..
Kini ku benar-benar merindukannya
Rindu akan paras penuh senyum
Rindu akan hangat pelukannya
Rindu akan kata-kata manis dari bibirnya


Namun…

Jika memang benar ini takdirku
Jika memang benar ini jalan hidupku
Tuk harus berpisah dengan dirinya
Akan aku terima
                     
Ijinkan aku tuk panjatkan doa padaMu Tuhan
Semoga kisah kenangan kami
Takkan pernah sirna
Tapi kan terukir indah
Dalam rangkaian rasi bintang-bintang di angkasa

Ku mohon Tuhan,
Semoa semilir angin kan tetap bernyanyi
Mengalunkan nada-nada indah
Yang terangkai menjadi senandung persahabatan
Yang membangkitkan senyuman dan keceriaan
Dan melupakan segala kekesalan

‘’Sahabat”
Sebuah kata sederhana
Namun kenangan hidup yang takkan pernah sirna

“sahabat”
Sebuah kata tanpa harapan
Namun pengrajut mimpi dalam kegelapan

“sahabat”
Sebuah kata tanpa cahaya
Namun lentera penerang yang kekal abadi

(Karya : Violentaria Gita Salina) 

Puisi : Pisau

Kala hujan gerimis
Kutangisi hati yang sadis
Mengoyak-ngoyak jantung ini
Hingga darah mulai habis

Pisau . . .
Di ujung matamu menetes darah merah
Membanjiri selaksa kerinduan
Yang dulu tertanam
Kini semua habis terbakar

Pisau . . .  
Gemuruh amarah berkobar
Matamu bagai saga
Memolekkan keangkuhanmu
Meluluh lantakkan kelembutan
Menghapus kenangan indah yang sudah terajut
Hingga nyawa terbang melayang
Membumbung tinggi ke atas sana
Dan tak pernah kembali lagi

Bumi menangis bersimbah darah
Bulan pucat pasi
Angin mendesah resah
Semua diam membisu
Sepi tanpa suara
Hanya suara rintihan tangis
Linangan air mata
Sebagai buah pahit
Dari tangan yang penuh dosa

(Karya : Violentaria Gita Salina)