"People cry not because they're weak, it's because they've been strong for too long".
Jadi, pernahkah kamu ngerasa semua ini ngga sesuai sama yang kamu inginkan? Entah, semua terasa berat. Dada terasa sesak. Kepala terasa pening. Tidak, ini bukan sekedar masalah fisik, tapi karena emosi yang tertahan begitu lama.
Jangan takut. Jangan memaksakan. Lepaskan saja, setidaknya itu akan membuat segalanya membaik. Nggak apa kalau kamu butuh break dari segalanya, butuh me time sejenak. Tapi, jangan terlalu dipikir dalam-dalam. Coba ambil langkah untuk jalan-jalan. Melihat langit. Melihat laut. Melihat gunung. Pepohonan, ikan di danau, atau segalanya di sekitarmu. Belajarlah seperti alam. Yang selalu tampil gagah dan tenang, meski dunia tau alam menyimpan banyak misteri di dalamnya. Belajarlah dari alam yang luas, namun tidak pernah sombong. Belajarlah dari alam yang begitu dinamis, namun hingga detik ini tetap bertahan.
Lalu jikalau air matamu memaksa untuk menetes, biarkanlah. Hangatnya air mata akan membantumu lebih tenang. Tidak usah khawatirkan orang yang tidak mengerti, yang menertawakan orang yang menangis. Tangisan itu bukan lelucon.
Tangisan itu bukan lelucon.
Lalu perlahan, bangkitlah. Selesaikan semuanya perlahan. Semua akan berlalu. Dan segalanya tentang duniamu, itu hanya kamu. Bertahanlah. Jangan menyerah.
Tuesday, August 1, 2017
Monday, July 24, 2017
Insom
Lagi lagi nggak bisa tidur.
Bikin playlist baru nggak lagi ampuh ngatasin susah tidur ini.
Overthinking.
Over, and over again.
Lalu perlahan, aku mulai ingat.
Katanya kalo ngga bisa tidur, cobalah untuk memikirkan masa lalu.
Bukan malah mempertanyakan masa depan yang belum pasti, malah bikin kacau, malah tambah ngga tidur-tidur.
Okay, inget tentang masa lalu, ya?
Hmm mau nginget yang mana ya?
Gimana kalau tentang si sore.
Waktu dia bikin janji jari kelingking pas kita kena lampu merah. Bayangin, lampu merah surabaya yang padet, banyak mobil motor sana sini. Eh dia malah ngejulurin ngasih jari kelingking ke aku. Dasar, hahaha.
Maunya aku ngga nge iya in, tapi gimana lagi. Dia ngasih jari kelingkingnya terus. Bertahan. Berdetik-detik. Kan lampunya udah mau ijo. Kan aku gamau di klakson orang sekampung, hihi. Eh btw bahasaku serem banget ya ngasih jari kelingking. Hmm maksudku nggak gitu, nggak motong jari lalu dikasih. Helloww serem kalo gitu -__- ya you know lah yaa maksudku gimana.
Well, okay I think it works. Udah mulai ngantuk.
Aku tambahin dikit lagi deh.
Dia ituuu, nyebelin. Kaya anak kecil.
Tapi aku suka, jadi ngga pernah bosen sama dia. Habisnya nyambung aja gitu tiba-tiba main ini main itu dia nyambung hehehe. Dia juga suka ngambek kalo aku mainan sama yang lain tapi gak ngajakin dia. Apa banget deh! Sumpah kaya anak kecil. Padahal, kalo kalian tau aslinya dia tuh hmm gimana yaa. Kaya serem gitu, galak, sok cool, tegas, gitu deh.
Tapi kalo pas ketemu aku, malah ngajakin main tebak-tebakan, main lempar koin uang logam, nyeritain dongeng atau nyeritain masa kecil masing-masing. Nggak heran pas yang lain ngeliatin aku sama dia berulah, mereka pada heran. Bertanya-tanya, dia yang selalu jaga image ternyata bisa gila jugak. Hehehe.
Udah deh segitu aja. Udah ngantukk hmm.
Nanti lain kali aku cerita lagi.
Oiya dia cuman temen aja kok.
Temen.
Gak baper.
Soalnya dia nyebelin, hehe.
Aku sukak, tapi gak baper.
Iya vio, iyaa.
Udah deh mau bubuk beneran.
Bye..
Bikin playlist baru nggak lagi ampuh ngatasin susah tidur ini.
Overthinking.
Over, and over again.
Lalu perlahan, aku mulai ingat.
Katanya kalo ngga bisa tidur, cobalah untuk memikirkan masa lalu.
Bukan malah mempertanyakan masa depan yang belum pasti, malah bikin kacau, malah tambah ngga tidur-tidur.
Okay, inget tentang masa lalu, ya?
Hmm mau nginget yang mana ya?
Gimana kalau tentang si sore.
Waktu dia bikin janji jari kelingking pas kita kena lampu merah. Bayangin, lampu merah surabaya yang padet, banyak mobil motor sana sini. Eh dia malah ngejulurin ngasih jari kelingking ke aku. Dasar, hahaha.
Maunya aku ngga nge iya in, tapi gimana lagi. Dia ngasih jari kelingkingnya terus. Bertahan. Berdetik-detik. Kan lampunya udah mau ijo. Kan aku gamau di klakson orang sekampung, hihi. Eh btw bahasaku serem banget ya ngasih jari kelingking. Hmm maksudku nggak gitu, nggak motong jari lalu dikasih. Helloww serem kalo gitu -__- ya you know lah yaa maksudku gimana.
Well, okay I think it works. Udah mulai ngantuk.
Aku tambahin dikit lagi deh.
Dia ituuu, nyebelin. Kaya anak kecil.
Tapi aku suka, jadi ngga pernah bosen sama dia. Habisnya nyambung aja gitu tiba-tiba main ini main itu dia nyambung hehehe. Dia juga suka ngambek kalo aku mainan sama yang lain tapi gak ngajakin dia. Apa banget deh! Sumpah kaya anak kecil. Padahal, kalo kalian tau aslinya dia tuh hmm gimana yaa. Kaya serem gitu, galak, sok cool, tegas, gitu deh.
Tapi kalo pas ketemu aku, malah ngajakin main tebak-tebakan, main lempar koin uang logam, nyeritain dongeng atau nyeritain masa kecil masing-masing. Nggak heran pas yang lain ngeliatin aku sama dia berulah, mereka pada heran. Bertanya-tanya, dia yang selalu jaga image ternyata bisa gila jugak. Hehehe.
Udah deh segitu aja. Udah ngantukk hmm.
Nanti lain kali aku cerita lagi.
Oiya dia cuman temen aja kok.
Temen.
Gak baper.
Soalnya dia nyebelin, hehe.
Aku sukak, tapi gak baper.
Iya vio, iyaa.
Udah deh mau bubuk beneran.
Bye..
Monday, July 17, 2017
Bahagia
Hai.
Seberapa bahagia kamu saat ini?
eiits, jangan lanjut baca dulu sebelum kamu menjawab loh!
Jadi, seberapa?
Bahagia kaya dia?
Atau sudah merasa bahagia sedunia?? Aamiin :)
.
Entah itu bahagiamu sebesar apa, aku bersyukur kalau saat ini kamu bahagia :)
Buat kamu yang bilang belum bahagia, belajarlah untuk bersyukur lagi yaa :)
Okay, karena udah lama banget ngga ngeblog, jadi maafin vio yaa kalau nulisnya agak kaku gini. Maklum lah, biasanya nulis skripsi, tapi ini ngeblog. hehe #alesan, padahal nulis skripsinya juga baru-baru aja. #yaiyalah kan deadliners. #astaga tobat. #maaf jangan dicontoh. #tapi beneran kok. #beneran apanya, vi? #iyain aja deuuhhh. #iya, vio iya. #terserah vio, terserah. #okay, cukup #ini apaan sih banyak pagar -__-
Jadi kali ini aku cuma mau cerita aja. Simpel kok. Cuman pingin ngingetin, kalau bahagia itu nggak selalu bergantung. Paham gak? Kamu nggak harus bahagia saat kamu bersama orang tertentu, dalam kondisi tertentu, bahkan saat kamu memiliki sesuatu.
Karena bahagia itu tentang kamu. Tentang perasaan dalam diri kamu.
Sedih aja gitu, sekarang banyak orang yang men-standart-kan kebahagiaan. Kaya kamu bakal dibilang bahagia kalau mencapai blah blah blah. Dan orang mengejar, mengorbankan segalanya untuk mencapai standart itu. Bahkan mengorbankan bahagia mereka sendiri. Bukankah nantinya yang mereka capai cuma agar dibilang bahagia? Lalu bahagiakah kamu saat orang lain berkata kamu telah bahagia, padahal batinmu ragu. "inikah bahagia? benarkah aku bahagia?"
Bahagia itu nggak mempertanyakan. Sekali lagi, bahagia itu tentang rasa.
Bahagia itu tentang kamu, nggak usah kamu bandingin dengan orang lain.
Kaya gini. Orang yang keliatan bahagia sekalipun, apakah kamu dapat menjamin dia benar-benar bahagia?
Tidak.
Atau orang yang tampak diam, biasa saja. apakah kamu dapat menjamin dia sedang tidak bahagia?
Tidak.
Aku mengenal banyak orang yang tertawa sana-sini. Tapi memendam luka di batinnya. Entah, tapi mata tidak bisa bohong bukan?
Aku mengenal orang yang tersenyum dan melontarkan lelucon, tapi saat malam dia menangis mempertanyakan hidup yang dia jalani.
Akupun juga mengenal orang yang hanya tersenyum tipis, namun dapat tidur dengan nyenyak, dengan senyum, karena dia melalui hari dengan baik. dengan penuh syukur.
Kalau saat ini kamu melalui hari yang berat, ikhlaskan, jalani, dan percayalah bahwa masalahmu akan berlalu. Jangan dipikirkan terlalu runyam, jalani. Jangan diratapi, jalani saja.
Perlahan, tata-lah cara pandangmu, cara berfikirmu.
Semua akan berlalu, bahagialah, seberat apapun itu, bersyukur dan bahagialah.
Aku berharap, kamu adalah orang yang selalu menemukan cara sederhana untuk bahagia.
Sehingga kamu menjadi orang yang dipenuhi oleh kebahagiaan.
Bahkan bahagiamu terlalu penuh untuk kamu miliki sendiri.
Lalu luapkanlah bahagiamu, se luap-luapnya.
Sehingga mereka yang susah menemukan kebahagiaan dari standar, dapat merasakan kebahagiaan sederhana darimu.
Lalu mereka yang bahagia, semoga mereka akan membahagiakan yang lainnya pula.
Tertawalah, tersenyumlah.
Semesta ini luas, tak bersekat, tak berbatas.
Kamu itu kecil, mungil, masalahmu juga sangatt kecil.
Jadi, hidupkanlah hidupmu.
Tertawalah, tersenyumlah.
Berbahagialah.
Monday, November 28, 2016
Angan, terbuang.
Karena anganku akan selalu tentangmu.
Taukah kamu hal yang menurutku indah? Ketika orang dapat berjanji, lalu menepati. Entah kenapa hal sesimpel itu kini kadang sulit untuk ditemui. Ya, ucap kata seperti "lupa" memang menjadi alasan top pada abad ini. Tak apa, biarkan saja. Sudah menjadi pilihan mereka.
Akupun mengingat hari saat kita bertemu kembali. Kamu datang, seperti biasa, dengan sangat tiba-tiba. Aku meng'iya'kan untuk bersama melihat bintang. Cerita dimulai, kini kisah dirajut kembali. Mengingat momen memang menjadi hal yang masih nyaman diperbincangkan. Tak peduli selama apa kita mengenal seseorang, bercerita yang dulu akan selalu membuat kita semakin mengetahuinya.
Semakin mengetahuinya
Sayang
Sore itu jingga mulai menjadi kelabu. Kenangan bersama bintang rasanya sudah sirna saat kita tahu bahwa tidak seharusnya kita bersama. Aku tidak terkejut, namun jujur sangat kecewa. Memang jatuh cinta tidak selalu berakhir dengan bersama. Tapi haruskah ini juga terjadi pada kisah kita?
Aku yang mengagumi bulan, dan kamu yang mendamba matahari. Kita tahu kita saling menyayangi. Dan saat itu pula kita tahu bahwa tidak seharusnya kita memaksakan untuk kembali.
Selamat berpisah, selamat berjuang.
Semuanya hanya sekedar kisah, yang perlahan akan terbuang.
Monday, November 21, 2016
Tutorial Masukin Image di Blog Unair
Hayooo lagi ngerjain tugasnya Pak Soegi yaaa?? :D
Oke, langsung aja.
Buat teman-teman yang ingin mengupload file gambar di blog unair, berikut ini langkah-langkahnya :
1. Pastikan kalian sudah login ke akun blog unair kalian.
( "yaiyalah vio, masa login ke fesbuk", hehehe becanda :D )
2. Terus jangan lupa pilih "Dashboard" dan "tambah artikel" yaaa :)
3. Next, buka tab baru dan kunjungi https://postimg.org/
Kenapa? Karena setauku untuk upload image di blog kita ini butuh url. Nah url ini kita dapatkan dari postimg :) ini dia penampakan dari postimg :
Oiya, kalian tinggal klik "Pilih gambar", dan pilih file gambar yang ingin kalian masukin ke blog.
4. Step nomor empat = Menunggu, hehehe :D
Cuma bentar kok nunggunya, ngga kaya nunggu abang sate lewat depan kost :"
5. Kalo udah, kalian bisa copy tulisan di baris Alamat langsung. Ini dia url yang akan kita masukin ke thread di blog unair.
6. Lanjut, balik lagi ke blog unair. Klik icon gambar. Selain cara ini, kalian juga bisa klik kanan di lembar kerja dan pilih "insert/edit image".
7. Terus tinggal paste alamat dari postimg tadi. Jangan lupa klik insert yaa :)
8. And, done. :)
Nah, itu dia cara upload image di blog unair ala vio. Kabari yaa kalau kalian berhasil pakai cara ini, atau kalau kalian menemukan cara lain ataupun cara yang lebih simpel untuk upload image di blog unair, kalian bisa mengabarinya di kolom komentar :)
Good luck, and thank you for reading :*
Tuesday, September 27, 2016
Hey, its green!
English task, ABCDLITS2.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
My senior high school experience has taught me that never-ever-ever limit yourself.
It happened when the first time of day
school, we need to choose a sport club to complete our activity report. For
sure, I felt confuse. Ya, I was bad at sport and I hate it. Because when I was
an elementary student, I always got sick after joining sport class.
Fortunately, in that sport club exhibition I met with my lobby-mate. She
promoted about karate club to me. I didn't know what I was thinking that time,
I just wrote "karate" on my club card after I met her.
It was really hard to balance my time
between life as a karateka, school student, dormitory student and of course as
a daughter. I have trough exhausted time, but I enjoyed it. Until the day when
I was in the third year. Now, school's rule for third year student is not about
student activity, but focused on national examination. So it was not obligation
anymore to join club. Just like what people say, best friends are family that we
choose. I felt comfortable in practicing, discussing or having chit chat
with my karate friends so I choose to keep on practicing in my spare time. Then
the hardest time begun. My senpai offered me to join stage examination; it is
the examination for karateka who want to get themselves to the next level of
karate; that would be held around 1 week further. When I heard that offer, in
my mind, I didn't know exactly how to distribute my 24 hours in one day to
finishing tasks, studying for tryout preparation, washing and ironing the
clothes and practice for stage examination. But my senpai and my friend kept persuade
me, and they said "Don't think too much, just keep on going. Everything
will be okay, and will be finished". Then, I decided to say
"yes".
A week has passed, the time has gone
unbelievably fast. The result was already in my senpai's hand. As the sky
change its colour into orange, and the noon turned into night, we sat together
on the ground , waiting. My senpai called us one by one. But I felt worried
because my name hasn’t called yet. "Am I doing a big mistake?". And in
the end, finally my senpai called my name and announced that I have passed the
test with a good score, and now I've got my green belt. I was so happy and realized
that hard work absolutely can beat all possibilities. I still remember when the
practice time finished at 10pm, then doing my task until 1 am, slept and I should woke
up at 4 am to study. In the morning I went to school and doing practice again in the night. But all those
pain are just temporary, that could turn into unforgotable memory.
**Thank you for reading, sorry for my bad
grammar :)
Wednesday, August 31, 2016
Hari.
"Kamu pilih yang mana? Pagi, siang, sore atau malam?"
"Hmm, aku? Aku suka senja. Kamu, Vi?"
"Kalau aku, hmm. Rahasia :p " *tersenyum lalu pergi*
Entahlah, mungkin karena menurutku 'mereka' bukan pilihan. Aku menyukai semuanya.
Pagi, saat udara masih sejuk. Saat matahari terbit. Atau ketika aku mengingat saat pergi ke sekolah bersama ayah, ibuk dan mas meda. Melewati jalan aspal ditengah sawah. Lalu ada semilir angin, wangi dari kebun melati dan sinar matahari hangat yang membuat alasan kenapa pagi selalu indah.
Atau pagi ketika mesin bus sekolah sudah menyala, rerumunan teman berseragam rapi, berbaris lalu apel pagi. Suara bapak ibu satpam di mikrofon, lalu pemandangan gunung di depan asrama.
Atau lagi, bangun pagi dengan mata masih berat. Ampas kopi sisa semalam. Tumpukan kertas tugas dan revisian. Kipas angin yang masih memutar, suara orang berbelanja sambil rumpi, suara orang yang mulai mencari nafkah. Membuka toko, menjual sayur.
Atau tentang siang.
Saat kebersamaan terus dirangkai. Terus dirangkai. Dirangkai menjadi memori.
Atau saat peluh mulai menetes.
Ya, berjuang. Mengejar yang harus dikejar. Mencari yang harus didapatkan. Berusaha. Bangkit. Mencoba lagi. Walau letih, tapi waktu memang tak pernah mau menunggu.
Siang, saat orang mulai mengenal. Bercanda, berlari, tertawa.
Siang, saat keputusan diambil. Ada yang tetap, ada yang pergi.
Berpisah, mengenang, sendu, tangis, kecewa.
Siang, saat berebut kekuasaan. Darah. Atau saat penyelamatan. Dari yang harus pergi, dari yang harus menyingkir.
Atau mungkin sore.
Saat dunia mulai sejuk kembali. Ketika semua kembali. Menghapus peluh, meminum seteguk air. Mulai tersenyum dan kembali kerumah.
Atau mungkin sore, saat matahari mulai kembali, dan langit menjadi jingga. Jingga memang selalu menarik. Nyaman. Merebahkan. Melupakan.
Atau tentang malam.
Saat dunia mulai damai. Tenang. Sunyi. Diam.
Saat segala lelah dilepaskan, saat harapan dilayangkan.
Saat langit gelap penuh bintang.
Saat mata terpejam. Hilang.
Sepenggal Kisah
Oleh : Violentaria
Melangkah menuju ruangan tanpa tepi
Berdiam diri
Berteman sepi
Menanti
Meratapi
Aku datang bukan karena kamu undang
Hanya saja ada keping yang tertinggal
Sepenggal
Terbang
Menghilang
Menghidupkan memori
Tentang senyum dan hangat tatapmu
Atau aku yang kamu buat tersipu malu
Tentang candaan, tentang kamu
Aku sudah melepasmu, sungguh
Aku sudah membiarkanmu pergi, tentu
Tapi aku hanya tidak akan menghapus kisahmu
Lagi
Sunday, July 10, 2016
Untuk Tuan
Oleh : Violentaria Gita Salina
Kibaran itu
kini mulai layu
Anginpun
mengalir sambil terus mendesah malu
Inikah baktimu pada orang terdahulu?
Tuan bilang,
yang dulu pasti sedang pilu
Melihat anak
cucu tumbuh tak menentu
Belum
korupsi, belum masalah harga diri
Belum kejahatan
usia dini, belum masalah uang lagi
Tuan bilang,
anak cucu cuma sekedar ahli mimpi
Tuan bilang,
anak cucu cuma sampah tanpa arti
Lalu, apa tetap mau seperti ini?
Anginpun
mengalir sambil terus mendesah malu
Seiring hati
berbisik dengan bibir yang pecah kaku
“Wahai tuan,
kami disini tidak diam
Hanya saja
ada saja yang membungkam”
Kami juga
bersatu dan berintegrasi
Berfikir
sana-sini untuk mencari solusi
Tapi mengapa
selalu ada yang menghakimi?
Ide belum
jalan sudah dihina setengah mati
Katanya evaluasi,
tapi penuh kritisasi
Katanya
untuk perbaikan nanti
Tapi menyingkirkan gerombolan kami
Apakah tuan
ingin me’raja’kan diri?
Sudah, kami
bukan generasi mati!
Tunggulan
kami pada “suatu hari nanti”
Meski
navigasi sudah tak lagi murni
Kami tetap menyeret
kaki membangunkan ibu pertiwi
Dan tuan
akan menyesali diri tanpa henti
Terkubur
dalam kepalsuan yang abadi
Nb : mohon mencantumkan
pembuat puisi dan meninggalkan komentar sebelum menggunakan puisi ini :)
Malam.
Oleh : Violentaria
Hai.
Apa kabar?
Semoga kamu tetap terus
menampilkan senyummu seperti dulu.
Iya, senyum itu.
Sungguh membuatku rindu.
Hai.
Aku masih disini.
Masih ditempat yang beda
denganmu.
Entah kenapa sepertinya jarak
membenciku.
Seiring berjalannya waktu.
Jarak membuatmu memudar.
Menipis.
Menghilang.
Hai.
Jika malam memang penuh
pengharapan.
Aku sungguh ingin kau datang.
Jika bulan memang penuh
keajaiban.
Aku sungguh ingin kita melayang.
Jika bintang memang bukan
khayalan.
Mari bersama mengarungi lautan impian.
Seperti janji yang lalu.
Seperti kenangan yang terdahulu.
Hai.
Sungguh aku merindumu.
Nb : mohon mencantumkan
pembuat puisi dan meninggalkan komentar sebelum menggunakan puisi ini J
Ahh, kamu sama saja!
Gerimis memang tidak selamanya menyisakan kenangan manis.
Gerimis saat ini,
hatiku mulai teriris.
Nulis apa sih
vi, kok alay gitu. Hehehe. Yaudahlahya, biar openingnya cettar badai membahana bwahahahaha!!! *abaikan*
Anyway aku mau cerita kisah hari
kamisku. Sumpah, kamis itu aku siaaal banget. Entahlah, mungkin memang that’s not my day. Mulai dari apes kena
harga mahal pas nyetak laporan, apes gara-gara temanku menyebalkan minta ampun
kaya anak bayi, sampe sedih banget pas nyadar ketika temenku yang kuanggap beda
ternyata. . . yabegitulah. Aku kira dia akan mengerti, aku kira seseorang akan
mengerti. Ternyata memang adakalanya kamu nggak perlu cerita karena memang cuma
kamu yang paham tentang dirimu sendiri.
Jujur
awalnya aku ingin nyeritain tentang part
yang temenku ngga bisa memahami. Tapi sepertinya aku mengurungkan niat untuk
nyeritain itu. Entahlah, aku ragu. Aku khawatir kalian juga tidak akan
memahaminya. Sorry, cerita kali ini
sepertinya cukup gini aja. Sekali lagi, maafin ya gengs :(
Tuesday, May 3, 2016
Rasa Kembali
Dalam bangunan seputih salju, kulangkahkan kaki ini
Tidak pasti, hanya saja mencoba meyakinkan diri
Pada keraguan yang mendalam, kupejamkan mata
Gelap, semakin gelap
gelap, semakin pekat
..dan terkejut..
Tanpa terasa, engkau hadir dihadapanku
Menyapa dengan sudut senyum unik dipipimu
Cerah, hangat, penuh cahaya
Kamu menyambutku dengan terbuka
Dan ajaibnya semua ragu perlahan sirna
Detik berlalu, waktu membeku
Saling tatap menjadi satu
Aku, kamu
Kembali ke masa lalu
Andai kamu tahu, rasa itu perlahan datang kembali
Rasa yang lama terpendam dan terkikis oleh waktu
Namun apa dikata, pertemuan itu merubah segalanya
Seperti lahir kembali, rasa itu muncul lagi
Hei, kapan kamu mulai menyadari?
Tidak pasti, hanya saja mencoba meyakinkan diri
Pada keraguan yang mendalam, kupejamkan mata
Gelap, semakin gelap
gelap, semakin pekat
..dan terkejut..
Tanpa terasa, engkau hadir dihadapanku
Menyapa dengan sudut senyum unik dipipimu
Cerah, hangat, penuh cahaya
Kamu menyambutku dengan terbuka
Dan ajaibnya semua ragu perlahan sirna
Detik berlalu, waktu membeku
Saling tatap menjadi satu
Aku, kamu
Kembali ke masa lalu
Andai kamu tahu, rasa itu perlahan datang kembali
Rasa yang lama terpendam dan terkikis oleh waktu
Namun apa dikata, pertemuan itu merubah segalanya
Seperti lahir kembali, rasa itu muncul lagi
Hei, kapan kamu mulai menyadari?
Wednesday, March 30, 2016
Deadliner bergerimis.
Siapa sangka kalau hari yang penat dan menyebalkan bisa datang dengan tiba-tiba. Yup, karena terkadang pagi yang cerah dan hangat juga bisa menjadi badai sesaat setelahnya. Mungkin seperti hari ini.
Bukan hal yang asing lagi buat mahasiswa untuk begadang sampai pagi. Memang sih, ada banyak alasan buat begadang. Bisa jadi karena nongkrong, nonton drama, nonton bola, main kartu atau apalah alasan lainnya. Tapi umumnya, alasan utama mahasiswa untuk begadang tentu saja karena tugas. Tu-gas! Entah kenapa kata-kata itu tidak terdengar asing, bahkan hampir mirip dengan frekuensi kata I Love You pada pasangan yang masih hangat-hangatnya baru jadian. Mugkin bahasa alaynya, "Tugas adalah udara, tugas adalah nafasku, tugas adalah aku~". Preettt. Apa sih, Vi. ((sok) puitis mode : on).
Kenapa sampai sebegitunya mendefinisikan tugas? Karena rasanya ngga komplit satu hari tanpa tugas. Ya! Seperti bakso tanpa saos, seperti teh tanpa es, atau seperti cabe tanpa hot pants. Sorry salah, maksudnya cabe tanpa gorengan. Eh, gorengan tanpa cabe. Duuuh, keliru kan. Whatever -,- Luar biasanya, ngga jarang juga 1 hari diisi dengan berbagai deadline tugas. Oh my God, satu aja udah ampun.
Dan kamipun dengan kompaknya menyalahkan semua hal itu sebagai alasan besar kami tumbuh menjadi deadliner. Hahaha. Rasanya pingin ngomong "entar aja deh" kalau berhadapan dengan tugas dengan rage deadline yang lumayan. Ngga baik emang, tapi, ya, bagaimana ya, kalian tau sendiri lah. Semacam butuh dorongan dan motivasi luar biasa untuk bisa menyelesaikan tugas semacam itu. Dan bagi seorang deadliner, deadline lah motivasi terbesar mereka. Memang bener, the power of kepepet sungguh bekerja. Ini terbukti! Saya sudah berulang kali membuktikannya! Percayalah! (Heboh ala ala iklan peninggi badan :D )
Eiiits, tapi sebenarnya saya bukan orang yang sepenuhnya deadliner kok. Untuk tugas dari mata kuliah yang saya sukai, tentu saya mengerjakannya jauh-jauh hari. Seperti tugas untuk deadline hari ini. Berjuang mati-matian dari pagi hingga pagi, dalam kurun waktu 4 hari. Dan kalian tahu kan, setiap orang yang kurang waktu tidur, kestabilan emosinya akan mudah terganggu. Tepat di siang hari, ada anak yang terus menyalahkan saya tanpa alasan yang jelas -,- Ngga hanya itu, dia terus-terusan mengomentari tugas saya, namun dia dengan santainya menyalin tugas yang telah dia komentari panjang lebar kali tinggi itu (re: tugas punya saya). Hah? Kenapa dia gitu, Vi? Hmm, good question. Pertanyaan yang sama dengan saya. Entahlah, mungkin dia lelah. Sungguh! Komentarnya membuat kepala saya mau pechhaaaah! -_-
Sempat juga sih menjadi super badmood karenanya. Melangkah tanpa pasti menuju kelas selanjutnya saking lelahnya menghadapi hari ini. Lemas, tak bersemangat. Sudah kurang tidur, dapet komentar panjang lagi -__- Kucoba menarik nafas dalam-dalam, berharap emosi ini segera stabil. Tapi sayangnya kali ini cara itu tidak berjalan dengan baik.
Kelaspun berakhir, waktunya ke tempat parkir. Tiba-tiba ada tetes air di kerudungku. Menetes lagi, dan lagi. Mulai cepat. Dan airpun mengalir di wajahku tepat. Hening. Tiba-tiba semua terasa hening dan tenang. Untuk beberapa saat telingaku mengignore seluruh polusi suara yang ada. Semakin tenang, dan aku merasa nyaman. Entah untuk beberapa saat, dalam gerimis justru aku merasa hangat. Mungkin karena dulu aku begitu menyukai hujan. Akupun mulai membuang segala emosi buruk, dan tanpa sadar terlukis senyuman diwajahku. Mungkin cukup aneh, tapi itulah yang terjadi. Akupun berbisik dalam hati, terimakasih, gerimis.
Monday, March 28, 2016
'Cause I Know What You Think
Untuk sebagian orang, mengetahui apa yang orang lain pikirkan mungkin menjadi hal yang menyenangkan. Namun percayalah, tidak selamanya begitu.
Sebenarnya aku bukan sesosok perempuan yang pandai membaca pikirkan orang lain. Aku hanya menganalisis ekspresi dan membandingkan dengan keadaan lingkungan sehingga aku dapat memprediksi tentang apa yang ada di dalam pikiran orang tersebut. Hal ini sudah sering kucoba semenjak aku masih kecil. Dan, memang cukup menyenangkan. Hingga hari seperti itu datang...
Saat itu ada kuis suatu pelajaran yang memang membutuhkan energi lebih untuk memahami pelajaran tersebut. Jujur saja, aku lebih suka memahami materi dari pada menghafalkan soal tahun lalu. Sehingga aku memilih untuk mengerjakan soal setelah aku belajar materi pelajaran tersebut. Temanku mengatakan bahwa sebaiknya aku menghafalkan setiap jawaban penyelesaian soal tahun lalu, namun sayangnya aku menolak.
Hingga akhirnya aku terkejut ketika mendapat soal kuis yang sama persis dengan soal tahun lalu. Entah kenapa, aku tidak beruntung saat itu. Ketika nilai hasil kuis dibagikan, ada sesosok anak yang mendapatkan hasil kuis dengan bangga dan membandingkan lembar jawabannya dengan jawaban teman lain yang nilainya tidak jauh dengannya. Apalah dayaku yang berakhir dengan nilai pas-pasan ini. Memang bukan nilai yang buruk, namun juga bukan nilai yang bagus. Tapi permasalahannya, moodku hancur pada saat itu bukan karena hasil yang kudapatkan, namun karena tatapan merendahkan dari dia. Akupun berjanji akan menaklukkan pelajaran tersebut.
Haripun berlalu, ujianpun tiba. Untuk mata pelajaran itu, aku belajar tanpa memikirkan jam tidur. Aku berjuang mati-matian. Mungkin aku hanya beristirahat sekitar 1 jam untuk menyiapkan tenaga dan merefresh pikiran. Akupun melangkah menuju ruang kelas dengan tatapan datar. Entah karena lelah, atau karea gugup. Untunglah, soal kali ini tidak terlalu susah. Namun tetap saja aku merasa gregetan ketika mendapat soal dengan jawaban yang meragukan. Aku coba segala cara dengan mengotak atik angka pada kalkulatorku. Akupun berkeringat di dalam ruangan berAC tersebut. "Ayo, Vi! Coba perhitungan yang lain!", bisikku dalam hati.
Tak terasa liburpun tiba. Aku menikmati liburku dengan menonton acara televisi yang menurutku tidak terlalu menarik. Entah kenapa, pikiranku melayang tanpa tujuan. Tiba-tiba handphoneku berdering. Ada chat masuk dengan berisikan pengumuman hasil ujian kemarin. Dan hasilnya, aku mendapatkan nilai tertinggi dikelas. Ya, tertinggi, di kelas. Memang nilai ku itu belum mencapai target yang kupasang untuk diriku sendiri. Namun setidaknya, seluruh anggota kelas mulai memperhatikan namaku.
Akupun terdiam sejenak dan mulai bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku bangga dengan hal ini? Apa aku sudah merasa hebat telah berada pada posisi di atas dia? Apakah aku melakukan hal ini karena pembalasan dendam atas tatapannya?
Dan semuapun terjawab. Bukan. Aku melakukan perjuangan itu bukan karena mereka. Namun karena aku ingin menguji diriku sendiri, sejauh apa aku bisa melompat ketika aku benar-benar berusaha. Ya! Hasil tidak akan menghianati usaha. :)
Sunday, March 27, 2016
Berawal dari Tatap Mata
Semua dimulai ketika aku bergabung pada, katakanlah, event organizer yang acaranya berlangsung satu bulan lagi. Entah kenapa temanku tiba-tiba mengajakku untuk bergabung, padahal sebelum-sebelumnya tidak. Aku tiba 10 menit sebelum meeting dimulai, kemudian memarkirkan motor spacy biru dihalaman yang cukup luas. Layaknya etika anak baru, aku masuk ke ruang meeting dengan sopan, berkenalan dengan tim sambil selalu tersenyum. Entah kenapa, agar tidak menimbulkan kesan buruk saja. Disana kami duduk melingkar sehingga aku dapat melihat dan mencoba mengingat seluruh anggota tim. Tampak hanya sekitar 7 anggota baru, dan sisanya para senior yang penampilannya lebih casual dengan menggunakan kaos dibandingkan para anggota baru yang semua berkemeja rapi.
Tak lama kemudian, meeting dimulai. Seperti biasa, kami berkenalan terlebih dahulu. Karena saling kenal akan mempermudah komunikasi baik sebelum maupun ketika eksekusi hari H. Kemudian penjelasan demi penjelasan terus dipaparkan oleh senior-senior di tempat tersebut. Mereka menjelaskan dengan semangat dan memberi senyuman hangat. Namun entah kenapa otakku membagi fokus dengan materi kimia yang akan diujikan tepat esok hari. Ya! Aku sudah berjanji kepada orangtua untuk tetap menstabilkan nilaiku walaupun aku memiliki kesibukan lain diluar kampus. Tapi tentu saja aku tetap mendengarkan pemaparan dan mengingat poin penting yang mereka ucapkan.
...hingga akhirnya giliran dia menjelaskan konsep acara...
Laki-laki yang duduk tepat didepanku, kini mulai menjelaskan konsep acara. Tidak seperti senior-senior yang sebelumnya, dia berbeda. Jarang sekali, dan mungkin dia tidak sempat menorehkan senyum diwajahnya. Tatapannya sungguh tajam, dan parahnya, dia menatap tepat pada kedua bola mataku. Akupun membalas tatapannya dengan gugup. Satu detik, dua detik, bahkan bermenit-menit dia memaparkan konsep acara dengan tetap menatap padaku. Entah aku anggota baru yang telah melakukan kesalahan apa, aku tidak tahu. Hampir bisa terhitung, dia memalingkan tatapannya sesekali ke sayap bagian kiri dan kanan ruang meeting tersebut. Namun pada akhirnya tatapannya kembali kepada mataku. Jujur aku hampir kehabisan nafas saking gugupnya karena tatapannya yang tajam. Sekitar 7 menit dia mengoceh, dan 7 menit itu pula aku berusaha terus membalas tatapannya. Sepertinya dalam ruangan tersebut tidak ada yang menyadari apa yang dilakukannya, sebab berbicara sambil menatap lurus ke depan mungkin sudah tampak wajar. Tapi, apakan orang yang terus ditatapnya, menganggap hal itu wajar? Tentu tidak!
"Kamu, sanggup bertanggung jawab dengan acara kedua bagian awal?", tanya dia dengan wajah tetap menatapku.
Akupun menoleh ke kiri dan kananku. Apakah dia sedang berbicara padaku atau mungkin pada yang lain.
"Hei, aku bertanya padamu! Fokus!"
Tiba-tiba seorang teman di sebelah kiriku menyenggol lenganku dan berbisik lirih, "Hei, vi. Cepat kasih respon".
"Sssaa ssaya, Kak?", tanyaku sambil menunjukkan jari telunjuk kananku kepada wajahku sendiri. Ssanggup kkak", jawabku gugup dengan ekspresi bodoh.
"Okay, nanti kujelaskan jobdismu lebih lanjut. Sekarang, kita lanjutkan. . ."
Huuufff.
Jantung ini rasanya dapat berdetak kembali. Kali ini dia sudah tidak menatapku lagi, sebab dia mulai membagi job kepada anggota yang lain. Syukurlah..
Sepulang dari meeting tersebut, aku masih bertanya-tanya. Siapa kakak itu sebenarnya? Sepertinya tidak terlalu asing. Apa aku pernah melakukan kesalahan padanya? Atau mungkin, memang kebiasaannya untuk menatap lurus kedepan saat berbicara dalam tim? Entahlah, akupun tidak tahu.
Thursday, August 6, 2015
My Xperience : The story behind making an AIESEC Recruitment 's Poster
So, here we go !
When there is a will, there is a way
Thats true!! I try to finish my job as a committee faster so I got the permission to leave the seminar in 1.5 hours. Besides, my friend give me the ride to go to the AIESEC Surabaya's office.
About my english??
I though about how my english can be understood by them, not think about my grammar. I tried to speak clearly and fluently and make sure that they didn't misunderstand nor miscommunication with what I have said. hehehe.
This is the poster of 2nd open recruitment member of AIESEC in Surabaya (Indonesia) 1415 or usually we call it by AIESEC Fair. While making this poster, my memories come. I remember the first time why I join this organization. Actually I am a silent girl (hehehe), so I want to learn how to communicate with others in a good way, learn how to adapt with the people with different background and sharing about experience or information.
After I took the form, I realize that the submission deadline is the next day. Unfortunately, I have a lot of homework also. I try so hard to divide my time and finally I could finish both.
Then after some days, the light comes. At that time, I was doing my laboratory report in my friend's room while my phone ringing. That chat is from my friend who give me the link of announcement. And, I PASSED!! Yeahh!!
..but I worried about interview and FGD (Forum Group Discussion)..
My english is not really good. And the worst thing is the day of interview and FGD is same with the day of seminar that held by my friends and me. The challenge come!! The time for seminar is start from 8am until 1pm and my interview & FGD is start at 9am until 10am. AND the distance between those venue is not near!!
When there is a will, there is a way
About my english??
I though about how my english can be understood by them, not think about my grammar. I tried to speak clearly and fluently and make sure that they didn't misunderstand nor miscommunication with what I have said. hehehe.
Dum durumm durum~~
And finally, I have the opportunity to be an AIESEC member!!!
Yeay!!
Cara merubah pointer mouse ( cursor ) pada blog
Haloo blogger!!
Ini nih salah satu cara untuk membuat blog kamu tampak lebih kece!
Untuk mengganti pointer mouse atau kursor di blog, caranya cukup mudah.
1. Browsing dulu atau siapin pointer yang mau kamu pake.
Kalau kamu belum punya pointer mousenya, kamu bisa cari di www.cursors-4u.com
Pilihlah kategori yang kamu inginkan :)
Misalkan aku pilih dari kategori Anime yang Most Viewed. Kemudian di sebelah kanan, aku memilih cursor hello kitty berikut.
2. Copy universal CSS/HTML code.
Setelah kamu klik model cursor yang kamu inginkan, scroll ke bawah dan kamu akan menemukan kode HTMLnya. Kamu tinggal ngblock tulisan yang ada di dalam kotak tersebut, kemudian mengcopynya ( Ctrl+c ).
4. Tambahkan Gadget
Kemudian masuk ke akun blogger kamu. Setelah log in, masuk ke menu tata letak dan pilihlah tambahkan gadget.
4. HTML/JavaScript
Klik tanda plus pada HTML/JavaScript.
5. Paste dan Simpan
Last step, tinggal paste dikotak konten dan klik simpan.
Nahh mudah kan? :)
Selamat mencoba!!
Ini nih salah satu cara untuk membuat blog kamu tampak lebih kece!
Untuk mengganti pointer mouse atau kursor di blog, caranya cukup mudah.
1. Browsing dulu atau siapin pointer yang mau kamu pake.
Kalau kamu belum punya pointer mousenya, kamu bisa cari di www.cursors-4u.com
Pilihlah kategori yang kamu inginkan :)
Misalkan aku pilih dari kategori Anime yang Most Viewed. Kemudian di sebelah kanan, aku memilih cursor hello kitty berikut.
2. Copy universal CSS/HTML code.
Setelah kamu klik model cursor yang kamu inginkan, scroll ke bawah dan kamu akan menemukan kode HTMLnya. Kamu tinggal ngblock tulisan yang ada di dalam kotak tersebut, kemudian mengcopynya ( Ctrl+c ).
4. Tambahkan Gadget
Kemudian masuk ke akun blogger kamu. Setelah log in, masuk ke menu tata letak dan pilihlah tambahkan gadget.
4. HTML/JavaScript
Klik tanda plus pada HTML/JavaScript.
5. Paste dan Simpan
Last step, tinggal paste dikotak konten dan klik simpan.
Nahh mudah kan? :)
Selamat mencoba!!
Saturday, May 16, 2015
Efek Nugas Seharian
Mungkin ini pembalasan dari tubuh yang secara tegas aku paksain buat duduk di depan laptop seharian. Iya, SE-HA-RI-AN! Dari pagi sampai ketemu pagi lagi, ngga tidur sama sekali!
*Ngapain aja lu, Vi? Stalking dia?*
Yaelah, stalking orang setidaknya ngga sampe menyita waktu tidur gitu. Ngga kok, tapi gara-gara efek tugas yang sebenernya sudah di kasih sama dosen berjuta minggu yang lalu. Tapi, namanya juga Vio, seorang insan dan mahasiswa biasa. Seberapa jauhpun range tanggal pemberian tugas sama tanggal deadline, tetep aja ngerjainnya H-1. Hehehehe. *Jangan dicontoh yaa*
So, rundown hari itu kurang lebih kaya gini :
06.00-06.30 : ngrefreshin pikiran
06.30-12.30 : nugas, ditemenin laptop dan 3 buku bantal tua berfont times new rowman
12.30-12.35 : mata lelah, laper, dan berfikir; siang bolong gini mana ada warung makanan buka?
12.35-13.00 : akhirnya bikin mie instant pake telur. masaknya 20 menit, makannya cuma 5 menit -.-
13.00-16.00 : nugas lagi, huff.
16.00-17.00 : digangguin buat ngerjain ini itu sama dia -,- terus sekalian ngrefreshin badan deh
17.00-18.00 : nugas again and again
18.00-19.00 : ngasih nafkah buat perut
19.00-05.35 :long long nugas everytime everywhere lalala *stress, berasa otak mau meledak*
Untungnya berhasil selesai tepat waktu.
Terus ngGadget bentar dan meremin mata.
Cuma tidur beberapa menit, ditelponin temen dan harus ke kampus buat ngumpulin hardfilenya.
Balik ke kost terus ngebabu, setrika dan ngerapihin barang-barang.
Balik ke rumah, main sama meong.
Tidur beberapa menit, terus dibangunin buat nemenin ibuk ke nikahan guru SMP dulu.
Terus kembali nugas, nyicil tugas yang deadlinenya 3 hari lagi *rajin, men!*
Akhirnya keesokan harinya aku tidur 12 jam buat ngembaliin mata yang panas,badan yang pegel dan otak yang nyaris meledak biar bisa balik ke kondisi normal. Huff.
Saturday, November 22, 2014
Kepada Hujan
Kepada hujan,
Yang datang tuk mengingatkan pada semua hal.
Bahwa yang hidup akan berakhir dengan ketiadaan.
Bahwa disini kita menanti tanpa sebuah kepastian.
Bahwa waktu yang terus berputar, perlahan akan memudar dan melayang.
Dan rintik air yang terus mengalir
Perlahan memunculkan kenangan tentang nyawa dan arti
Dan waktu berjalan, beralun dalam nada.
Menanti kisah baru dalam naungan bulan desember.
Saat kau datang dan perlahan menghilang.
Saat harapan yang diperjuangkan mati-matian entah kemana kini arahnya.
Dan hujan,
Datanglah, terus datanglah,
Hingga perlahan aku tenggelam dalam diam.
Tenggelam dalam masa dan waktu yang telah lalu.
Tenggelam, terus tenggelam, begitu dalam.
Namun kan muncul kembali.
Entah sebagai apa.
Yang datang tuk mengingatkan pada semua hal.
Bahwa yang hidup akan berakhir dengan ketiadaan.
Bahwa disini kita menanti tanpa sebuah kepastian.
Bahwa waktu yang terus berputar, perlahan akan memudar dan melayang.
Dan rintik air yang terus mengalir
Perlahan memunculkan kenangan tentang nyawa dan arti
Dan waktu berjalan, beralun dalam nada.
Menanti kisah baru dalam naungan bulan desember.
Saat kau datang dan perlahan menghilang.
Saat harapan yang diperjuangkan mati-matian entah kemana kini arahnya.
Dan hujan,
Datanglah, terus datanglah,
Hingga perlahan aku tenggelam dalam diam.
Tenggelam dalam masa dan waktu yang telah lalu.
Tenggelam, terus tenggelam, begitu dalam.
Namun kan muncul kembali.
Entah sebagai apa.
Kepergian
Perasaan itu datang lagi.
Keadaaan yang pernah aku alami, yang membuatku berfikir dan berharap agar aku tidak bertahan lama pada dunia yang semakin memuakkan ini, perlahan mulai datang. Angka 17 yang biasanya penuh kebahagiaan, perlahan mulai mencekam. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku biarkan saja semuanya berjalan, berputar. Aku hanya ingin mengikuti skenario kehidupan yang mainstream ini.
Perlahan namun pasti, angka itu mulai berganti. Biarkan saja, aku tetap tidak peduli. Aku hanya merasa seperti benda mati yang dipaksa untuk menjalani kehidupan yang tiada akhir. Aku tetap terdiam dalam sepi. Memasang muka seperti tidak ada masalah kecil yang megganjal hati.
Jika memang semua harus berlalu, biarkan saja berlalu. Jika memang semua memaksaku untuk berada disitu, aku akan berada disitu walau aku tidak pernah sekalipun berfikir tuk mengharap sesuatu. Apalah arti kata aku jika aku tak mau mengikuti jalan kebusukan hidup ini. Semua munafik, semua kejam. Namun sayang, semua sudah tertanam.
Biarkan saja aku berlalu, tanpa pernah kalian amati dan perhatikan. Karena di ujung jalan nanti, mungkin kalian akan berbahagia, tertawa terbahak tanpa makna.
Dan tanpa kalian sadari, mungkin aku telah pergi dan menghilang, mengikuti jejak bintang yang sebelumnya hanya bisa menjadi saksi atas semua yang aku alami.
Subscribe to:
Posts (Atom)


