Monday, November 28, 2016

Angan, terbuang.

Karena anganku akan selalu tentangmu.

Taukah kamu hal yang menurutku indah? Ketika orang dapat berjanji, lalu menepati. Entah kenapa hal sesimpel itu kini kadang sulit untuk ditemui. Ya, ucap kata seperti "lupa" memang menjadi alasan top pada abad ini. Tak apa, biarkan saja. Sudah menjadi pilihan mereka.

Akupun mengingat hari saat kita bertemu kembali. Kamu datang, seperti biasa, dengan sangat tiba-tiba. Aku meng'iya'kan untuk bersama melihat bintang. Cerita dimulai, kini kisah dirajut kembali. Mengingat momen memang menjadi hal yang masih nyaman diperbincangkan. Tak peduli selama apa kita mengenal seseorang, bercerita yang dulu akan selalu membuat kita semakin mengetahuinya.

Semakin mengetahuinya

Sayang

Sore itu jingga mulai menjadi kelabu. Kenangan bersama bintang rasanya sudah sirna saat kita tahu bahwa tidak seharusnya kita bersama. Aku tidak terkejut, namun jujur sangat kecewa. Memang jatuh cinta tidak selalu berakhir dengan bersama. Tapi haruskah ini juga terjadi pada kisah kita?

Aku yang mengagumi bulan, dan kamu yang mendamba matahari. Kita tahu kita saling menyayangi. Dan saat itu pula kita tahu bahwa tidak seharusnya kita memaksakan untuk kembali.

Selamat berpisah, selamat berjuang. 
Semuanya hanya sekedar kisah, yang perlahan akan terbuang.

Monday, November 21, 2016

Tutorial Masukin Image di Blog Unair


Hayooo lagi ngerjain tugasnya Pak Soegi yaaa?? :D

Oke, langsung aja.
Buat teman-teman yang ingin mengupload file gambar di blog unair, berikut ini langkah-langkahnya :

1. Pastikan kalian sudah login ke akun blog unair kalian.
( "yaiyalah vio, masa login ke fesbuk", hehehe becanda :D )

2. Terus jangan lupa pilih "Dashboard" dan "tambah artikel" yaaa :)


3. Next, buka tab baru dan kunjungi https://postimg.org/ 
    Kenapa? Karena setauku untuk upload image di blog kita ini butuh url. Nah url ini kita dapatkan dari postimg :) ini dia penampakan dari postimg :


Oiya, kalian tinggal klik "Pilih gambar", dan pilih file gambar yang ingin kalian masukin ke blog.

4. Step nomor empat = Menunggu, hehehe :D
Cuma bentar kok nunggunya, ngga kaya nunggu abang sate lewat depan kost :"

5. Kalo udah, kalian bisa copy tulisan di baris Alamat langsung. Ini dia url yang akan kita masukin ke  thread di blog unair.


6. Lanjut, balik lagi ke blog unair. Klik icon gambar. Selain cara ini, kalian juga bisa klik kanan di lembar kerja dan pilih "insert/edit image".

7. Terus tinggal paste alamat dari postimg tadi. Jangan lupa klik insert yaa :)

8. And, done. :)



Nah, itu dia cara upload image di blog unair ala vio. Kabari yaa kalau kalian berhasil pakai cara ini, atau kalau kalian menemukan cara lain ataupun cara yang lebih simpel untuk upload image di blog unair, kalian bisa mengabarinya di kolom komentar :)

Good luck, and thank you for reading :*

Tuesday, September 27, 2016

Hey, its green!

English task, ABCDLITS2.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

My senior high school experience has taught me that never-ever-ever limit yourself.

It happened when the first time of day school, we need to choose a sport club to complete our activity report. For sure, I felt confuse. Ya, I was bad at sport and I hate it. Because when I was an elementary student, I always got sick after joining sport class. Fortunately, in that sport club exhibition I met with my lobby-mate. She promoted about karate club to me. I didn't know what I was thinking that time, I just wrote "karate" on my club card after I met her. 

It was really hard to balance my time between life as a karateka, school student, dormitory student and of course as a daughter. I have trough exhausted time, but I enjoyed it. Until the day when I was in the third year. Now, school's rule for third year student is not about student activity, but focused on national examination. So it was not obligation anymore to join club. Just like what people say, best friends are family that we choose. I felt comfortable in practicing, discussing or having chit chat with my karate friends so I choose to keep on practicing in my spare time. Then the hardest time begun. My senpai offered me to join stage examination; it is the examination for karateka who want to get themselves to the next level of karate; that would be held around 1 week further. When I heard that offer, in my mind, I didn't know exactly how to distribute my 24 hours in one day to finishing tasks, studying for tryout  preparation, washing and ironing the clothes and practice for stage examination. But my senpai and my friend kept persuade me, and they said "Don't think too much, just keep on going. Everything will be okay, and will be finished". Then, I decided to say "yes".

A week has passed, the time has gone unbelievably fast. The result was already in my senpai's hand. As the sky change its colour into orange, and the noon turned into night, we sat together on the ground , waiting. My senpai called us one by one. But I felt worried because my name hasn’t called yet. "Am I doing a big mistake?". And in the end, finally my senpai called my name and announced that I have passed the test with a good score, and now I've got my green belt. I was so happy and realized that hard work absolutely can beat all possibilities. I still remember when the practice time finished at 10pm, then doing my task until 1 am, slept and I should woke up at 4 am to study. In the morning I went to school and doing practice again in the night. But all those pain are just temporary, that could turn into unforgotable memory.

**Thank you for reading, sorry for my bad grammar :)


Wednesday, August 31, 2016

Hari.

"Kamu pilih yang mana? Pagi, siang, sore atau malam?"
"Hmm, aku? Aku suka senja. Kamu, Vi?"
"Kalau aku, hmm. Rahasia :p " *tersenyum lalu pergi*

Entahlah, mungkin karena menurutku 'mereka' bukan pilihan. Aku menyukai semuanya. 

Pagi, saat udara masih sejuk. Saat matahari terbit. Atau ketika aku mengingat saat pergi ke sekolah bersama ayah, ibuk dan mas meda. Melewati jalan aspal ditengah sawah. Lalu ada semilir angin, wangi dari kebun melati dan sinar matahari hangat yang membuat alasan kenapa pagi selalu indah.
Atau pagi ketika mesin bus sekolah sudah menyala, rerumunan teman berseragam rapi, berbaris lalu apel pagi. Suara bapak ibu satpam di mikrofon, lalu pemandangan gunung di depan asrama.
Atau lagi, bangun pagi dengan mata masih berat. Ampas kopi sisa semalam. Tumpukan kertas tugas dan revisian. Kipas angin yang masih memutar, suara orang berbelanja sambil rumpi, suara orang yang mulai mencari nafkah. Membuka toko, menjual sayur. 

Atau tentang siang. 
Saat kebersamaan terus dirangkai. Terus dirangkai. Dirangkai menjadi memori.
Atau saat peluh mulai menetes.
Ya, berjuang. Mengejar yang harus dikejar. Mencari yang harus didapatkan. Berusaha. Bangkit. Mencoba lagi. Walau letih, tapi waktu memang tak pernah mau menunggu.
Siang, saat orang mulai mengenal. Bercanda, berlari, tertawa.
Siang, saat keputusan diambil. Ada yang tetap, ada yang pergi.
Berpisah, mengenang, sendu, tangis, kecewa.
Siang, saat berebut kekuasaan. Darah. Atau saat penyelamatan. Dari yang harus pergi, dari yang harus menyingkir.

Atau mungkin sore.
Saat dunia mulai sejuk kembali. Ketika semua kembali. Menghapus peluh, meminum seteguk air. Mulai tersenyum dan kembali kerumah. 
Atau mungkin sore, saat matahari mulai kembali, dan langit menjadi jingga. Jingga memang selalu menarik. Nyaman. Merebahkan. Melupakan.

Atau tentang malam.
Saat dunia mulai damai. Tenang. Sunyi. Diam. 
Saat segala lelah dilepaskan, saat harapan dilayangkan.
Saat langit gelap penuh bintang.
Saat mata terpejam. Hilang.

Sepenggal Kisah

                                                                                                          Oleh : Violentaria

Aku kemari bukan karena kamu disini
Melangkah menuju ruangan tanpa tepi
Berdiam diri
Berteman sepi
Menanti
Meratapi

Aku datang bukan karena kamu undang
Hanya saja ada keping yang tertinggal
Sepenggal
Terbang
Menghilang

Aku disini hanya mengingat kembali
Menghidupkan memori
Tentang senyum dan hangat tatapmu
Atau aku yang kamu buat tersipu malu
Tentang candaan, tentang kamu

Aku sudah melepasmu, sungguh
Aku sudah membiarkanmu pergi, tentu
Tapi aku hanya tidak akan menghapus kisahmu
Lagi

Sunday, July 10, 2016

Untuk Tuan

Oleh : Violentaria Gita Salina

Kibaran itu kini mulai layu
Anginpun mengalir sambil terus mendesah malu
Inikah baktimu pada orang terdahulu?

Tuan bilang, yang dulu pasti sedang pilu
Melihat anak cucu tumbuh tak menentu
Belum korupsi, belum masalah harga diri
Belum kejahatan usia dini, belum masalah uang lagi

Tuan bilang, anak cucu cuma sekedar ahli mimpi
Tuan bilang, anak cucu cuma sampah tanpa arti

Lalu, apa tetap mau seperti ini?

Anginpun mengalir sambil terus mendesah malu
Seiring hati berbisik dengan bibir yang pecah kaku
“Wahai tuan, kami disini tidak diam
Hanya saja ada saja yang membungkam”

Kami juga bersatu dan berintegrasi
Berfikir sana-sini untuk mencari solusi
Tapi mengapa selalu ada yang menghakimi?
Ide belum jalan sudah dihina setengah mati
Katanya evaluasi, tapi penuh kritisasi
Katanya untuk perbaikan nanti
Tapi  menyingkirkan gerombolan kami
Apakah tuan ingin me’raja’kan diri?

Sudah, kami bukan generasi mati!
Tunggulan kami pada “suatu hari nanti”

Meski navigasi sudah tak lagi murni
Kami tetap menyeret kaki membangunkan ibu pertiwi
Dan tuan akan menyesali diri tanpa henti
Terkubur dalam kepalsuan yang abadi


Nb : mohon mencantumkan pembuat puisi dan meninggalkan komentar sebelum menggunakan puisi ini :)

Malam.

Oleh : Violentaria

Hai.
Apa kabar?
Semoga kamu tetap terus menampilkan senyummu seperti dulu.
Iya, senyum itu.
Sungguh membuatku rindu.

Hai.
Aku masih disini.
Masih ditempat yang beda denganmu.
Entah kenapa sepertinya jarak membenciku.
Seiring berjalannya waktu.
Jarak membuatmu memudar.
Menipis.
Menghilang.

Hai.
Jika malam memang penuh pengharapan.
Aku sungguh ingin kau datang.
Jika bulan memang penuh keajaiban.
Aku sungguh ingin kita melayang.
Jika bintang memang bukan khayalan.
Mari bersama mengarungi lautan impian.
Seperti janji yang lalu.
Seperti kenangan yang terdahulu.

Hai.
Sungguh aku merindumu.

Nb : mohon mencantumkan pembuat puisi dan meninggalkan komentar sebelum menggunakan puisi ini J