Tuesday, September 27, 2016

Hey, its green!

English task, ABCDLITS2.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

My senior high school experience has taught me that never-ever-ever limit yourself.

It happened when the first time of day school, we need to choose a sport club to complete our activity report. For sure, I felt confuse. Ya, I was bad at sport and I hate it. Because when I was an elementary student, I always got sick after joining sport class. Fortunately, in that sport club exhibition I met with my lobby-mate. She promoted about karate club to me. I didn't know what I was thinking that time, I just wrote "karate" on my club card after I met her. 

It was really hard to balance my time between life as a karateka, school student, dormitory student and of course as a daughter. I have trough exhausted time, but I enjoyed it. Until the day when I was in the third year. Now, school's rule for third year student is not about student activity, but focused on national examination. So it was not obligation anymore to join club. Just like what people say, best friends are family that we choose. I felt comfortable in practicing, discussing or having chit chat with my karate friends so I choose to keep on practicing in my spare time. Then the hardest time begun. My senpai offered me to join stage examination; it is the examination for karateka who want to get themselves to the next level of karate; that would be held around 1 week further. When I heard that offer, in my mind, I didn't know exactly how to distribute my 24 hours in one day to finishing tasks, studying for tryout  preparation, washing and ironing the clothes and practice for stage examination. But my senpai and my friend kept persuade me, and they said "Don't think too much, just keep on going. Everything will be okay, and will be finished". Then, I decided to say "yes".

A week has passed, the time has gone unbelievably fast. The result was already in my senpai's hand. As the sky change its colour into orange, and the noon turned into night, we sat together on the ground , waiting. My senpai called us one by one. But I felt worried because my name hasn’t called yet. "Am I doing a big mistake?". And in the end, finally my senpai called my name and announced that I have passed the test with a good score, and now I've got my green belt. I was so happy and realized that hard work absolutely can beat all possibilities. I still remember when the practice time finished at 10pm, then doing my task until 1 am, slept and I should woke up at 4 am to study. In the morning I went to school and doing practice again in the night. But all those pain are just temporary, that could turn into unforgotable memory.

**Thank you for reading, sorry for my bad grammar :)


Wednesday, August 31, 2016

Hari.

"Kamu pilih yang mana? Pagi, siang, sore atau malam?"
"Hmm, aku? Aku suka senja. Kamu, Vi?"
"Kalau aku, hmm. Rahasia :p " *tersenyum lalu pergi*

Entahlah, mungkin karena menurutku 'mereka' bukan pilihan. Aku menyukai semuanya. 

Pagi, saat udara masih sejuk. Saat matahari terbit. Atau ketika aku mengingat saat pergi ke sekolah bersama ayah, ibuk dan mas meda. Melewati jalan aspal ditengah sawah. Lalu ada semilir angin, wangi dari kebun melati dan sinar matahari hangat yang membuat alasan kenapa pagi selalu indah.
Atau pagi ketika mesin bus sekolah sudah menyala, rerumunan teman berseragam rapi, berbaris lalu apel pagi. Suara bapak ibu satpam di mikrofon, lalu pemandangan gunung di depan asrama.
Atau lagi, bangun pagi dengan mata masih berat. Ampas kopi sisa semalam. Tumpukan kertas tugas dan revisian. Kipas angin yang masih memutar, suara orang berbelanja sambil rumpi, suara orang yang mulai mencari nafkah. Membuka toko, menjual sayur. 

Atau tentang siang. 
Saat kebersamaan terus dirangkai. Terus dirangkai. Dirangkai menjadi memori.
Atau saat peluh mulai menetes.
Ya, berjuang. Mengejar yang harus dikejar. Mencari yang harus didapatkan. Berusaha. Bangkit. Mencoba lagi. Walau letih, tapi waktu memang tak pernah mau menunggu.
Siang, saat orang mulai mengenal. Bercanda, berlari, tertawa.
Siang, saat keputusan diambil. Ada yang tetap, ada yang pergi.
Berpisah, mengenang, sendu, tangis, kecewa.
Siang, saat berebut kekuasaan. Darah. Atau saat penyelamatan. Dari yang harus pergi, dari yang harus menyingkir.

Atau mungkin sore.
Saat dunia mulai sejuk kembali. Ketika semua kembali. Menghapus peluh, meminum seteguk air. Mulai tersenyum dan kembali kerumah. 
Atau mungkin sore, saat matahari mulai kembali, dan langit menjadi jingga. Jingga memang selalu menarik. Nyaman. Merebahkan. Melupakan.

Atau tentang malam.
Saat dunia mulai damai. Tenang. Sunyi. Diam. 
Saat segala lelah dilepaskan, saat harapan dilayangkan.
Saat langit gelap penuh bintang.
Saat mata terpejam. Hilang.

Sepenggal Kisah

                                                                                                          Oleh : Violentaria

Aku kemari bukan karena kamu disini
Melangkah menuju ruangan tanpa tepi
Berdiam diri
Berteman sepi
Menanti
Meratapi

Aku datang bukan karena kamu undang
Hanya saja ada keping yang tertinggal
Sepenggal
Terbang
Menghilang

Aku disini hanya mengingat kembali
Menghidupkan memori
Tentang senyum dan hangat tatapmu
Atau aku yang kamu buat tersipu malu
Tentang candaan, tentang kamu

Aku sudah melepasmu, sungguh
Aku sudah membiarkanmu pergi, tentu
Tapi aku hanya tidak akan menghapus kisahmu
Lagi

Sunday, July 10, 2016

Untuk Tuan

Oleh : Violentaria Gita Salina

Kibaran itu kini mulai layu
Anginpun mengalir sambil terus mendesah malu
Inikah baktimu pada orang terdahulu?

Tuan bilang, yang dulu pasti sedang pilu
Melihat anak cucu tumbuh tak menentu
Belum korupsi, belum masalah harga diri
Belum kejahatan usia dini, belum masalah uang lagi

Tuan bilang, anak cucu cuma sekedar ahli mimpi
Tuan bilang, anak cucu cuma sampah tanpa arti

Lalu, apa tetap mau seperti ini?

Anginpun mengalir sambil terus mendesah malu
Seiring hati berbisik dengan bibir yang pecah kaku
“Wahai tuan, kami disini tidak diam
Hanya saja ada saja yang membungkam”

Kami juga bersatu dan berintegrasi
Berfikir sana-sini untuk mencari solusi
Tapi mengapa selalu ada yang menghakimi?
Ide belum jalan sudah dihina setengah mati
Katanya evaluasi, tapi penuh kritisasi
Katanya untuk perbaikan nanti
Tapi  menyingkirkan gerombolan kami
Apakah tuan ingin me’raja’kan diri?

Sudah, kami bukan generasi mati!
Tunggulan kami pada “suatu hari nanti”

Meski navigasi sudah tak lagi murni
Kami tetap menyeret kaki membangunkan ibu pertiwi
Dan tuan akan menyesali diri tanpa henti
Terkubur dalam kepalsuan yang abadi


Nb : mohon mencantumkan pembuat puisi dan meninggalkan komentar sebelum menggunakan puisi ini :)

Malam.

Oleh : Violentaria

Hai.
Apa kabar?
Semoga kamu tetap terus menampilkan senyummu seperti dulu.
Iya, senyum itu.
Sungguh membuatku rindu.

Hai.
Aku masih disini.
Masih ditempat yang beda denganmu.
Entah kenapa sepertinya jarak membenciku.
Seiring berjalannya waktu.
Jarak membuatmu memudar.
Menipis.
Menghilang.

Hai.
Jika malam memang penuh pengharapan.
Aku sungguh ingin kau datang.
Jika bulan memang penuh keajaiban.
Aku sungguh ingin kita melayang.
Jika bintang memang bukan khayalan.
Mari bersama mengarungi lautan impian.
Seperti janji yang lalu.
Seperti kenangan yang terdahulu.

Hai.
Sungguh aku merindumu.

Nb : mohon mencantumkan pembuat puisi dan meninggalkan komentar sebelum menggunakan puisi ini J


Ahh, kamu sama saja!

Gerimis memang tidak selamanya menyisakan kenangan manis.
Gerimis saat ini, hatiku mulai teriris.

Nulis apa sih vi, kok alay gitu. Hehehe. Yaudahlahya, biar openingnya cettar badai membahana bwahahahaha!!! *abaikan*

Anyway aku mau cerita kisah hari kamisku. Sumpah, kamis itu aku siaaal banget. Entahlah, mungkin memang that’s not my day. Mulai dari apes kena harga mahal pas nyetak laporan, apes gara-gara temanku menyebalkan minta ampun kaya anak bayi, sampe sedih banget pas nyadar ketika temenku yang kuanggap beda ternyata. . . yabegitulah. Aku kira dia akan mengerti, aku kira seseorang akan mengerti. Ternyata memang adakalanya kamu nggak perlu cerita karena memang cuma kamu yang paham tentang dirimu sendiri.

Jujur awalnya aku ingin nyeritain tentang part yang temenku ngga bisa memahami. Tapi sepertinya aku mengurungkan niat untuk nyeritain itu. Entahlah, aku ragu. Aku khawatir kalian juga tidak akan memahaminya. Sorry, cerita kali ini sepertinya cukup gini aja. Sekali lagi, maafin ya gengs :(

Tuesday, May 3, 2016

Rasa Kembali

Dalam bangunan seputih salju, kulangkahkan kaki ini
Tidak pasti, hanya saja mencoba meyakinkan diri

Pada keraguan yang mendalam, kupejamkan mata
Gelap, semakin gelap
gelap, semakin pekat

..dan terkejut..

Tanpa terasa, engkau hadir dihadapanku
Menyapa dengan sudut senyum unik dipipimu
Cerah, hangat, penuh cahaya
Kamu menyambutku dengan terbuka
Dan ajaibnya semua ragu perlahan sirna

Detik berlalu, waktu membeku
Saling tatap menjadi satu
Aku, kamu
Kembali ke masa lalu

Andai kamu tahu, rasa itu perlahan datang kembali
Rasa yang lama terpendam dan terkikis oleh waktu
Namun apa dikata, pertemuan itu merubah segalanya

Seperti lahir kembali, rasa itu muncul lagi

Hei, kapan kamu mulai menyadari?